May 18, 2009

BERTANGISLAH MELAHU-LAHU, KONON. TETAPI APALAH SUDAH DAN GUNA LAGI


KONON, prihatin dan terlalu mengenangkan sungguh dirimu akan nasib dan masa depan kami penghuni yang melata di lembah-lembah sedang kau tetaplah juga berlenang dan senang di mahligai indah nun di puncak bukit yang hampir mencecah langit dan angkasa itu.

Konon, tidalah dapat akan dirimu melenakan tidor kerana asyik memikirkan segala yang sudah dan sedang terjadi ke atas diri sekalian kami yang hanya melata di lembah ini. Tetapi lupakah dirimu siapakah dahulu yang mendatangkan segala bencana ini kalau bukan dirimu dirimulah jua adanya.

Jelas dan nyata sungguh pandainya amat kaubermain dan membelitkan kata. Betapa, ketika kau sedang bermalas-malas di peterana itu, pernahkah sekalipun dirimu berfikir mengenai untung dan peri nasib diri kami ini?

Tidakkah tatkala itu kausengaja membuat menjadi lupa semata-mata kerana sombong dan asyiknya dirimu menimbun segala harta dan mengembongkan tembolok sendiri. Sehingga di dalam asyik dan leka itu, tidaklah sudi dirimu ingin mendengar segala keluh dan rintih kami yang hanya melata di lembah ini. Kecuali ketika tiba saat yang bakal menjadi penentu itu, datanglah dirimu bersama konco dan segala pencacai menabur sejuta janji dan bujuk yang selalu dirimu dengung dan semboyankan atas nama maruah dan masa depan.

Tetapi maruah dan masa depan siapa? Kerana yang kenyang dan selesa tetaplah dirimu dirimu jua. Dan kami yang melata di lembah, tetaplah insan yang melata dan tidak akan berasap dapornya jika tidak menitiskan keringat usaha.

Tetapi begitulah akan peri dan kisahnya. Konon, datanglah lagi dirimu hari ini menayangkan wajah sememeh dan semacai bagaikan kain tidak sudah berjahit dan menuturkan konon segala petua dan kata hikmat.

Tetapi kata hikmat dan petua untuk siapa? Lupa sudahkah dirimu siapa yang sebenarnya menjadikan sekalian kami keliru dan buntu kalau bukan dirimu jua?

Jadi sudah dan hentikanlah segala konon dan demi konon itu. Apalah lagi gunanya kini menangis melahu-lahu jika segalanya semakin hampir menjadi debu.

Seperti kata pepatah lama, berpuluh jong masuk namun yang berada tetaplah mereka yang datang jua dan kami di lembah tetaplah tidak sudah berkeluh dan berkesah.

Jadi sudahlah berkonon dan tiada gunanya lagi menangis hinggakan melahu-lahu.

Mei 18, 2009

9 Komen::

addyaholix said...

aku tak pandai nak komen yang ni. tulisan kau sinis. haha!

kalau cuma baca saja boleh? =)

SATIRA + KACAU said...

Addyaholix: Erm.

Satira + Kacau

Sri Diah said...

Salam,
Ada ramai orang ramah, tapi tak semuanya tamah...

S.YanaZ said...

kalaupun gua mao menangis, saat gua mohon agar masa bisa dikembalikan.
masa yg di dlmnya satu harapan usai diperangkap usia.

SATIRA + KACAU said...

Sri Diah: Aku berada di lembah.

Satira + Kacau

SATIRA + KACAU said...

S.YanaZ: Yang pergi tidak lagi kembali.

Satira + Kacau

Basuh Baju said...

satira yg betul2 buatkan aku kacau sikit minda..kena baca dua tiga kaoli..haha tp best.

Danielle_Corleone said...

Ini sarat dengan kisah yang ada nilai untuk saya saudara.

SIS said...

salam satira...mmg sinis ..mmg pedasss..